Arsip untuk Juni, 2007

romanturgi cinta II

cinta menanti

pada teguran hati

dalam hitungan kali

kini kembali

menyesal sekali

 romanturgi cinta II, kala cinta berpola

romanturgi cinta

rengkuh cinta

cinta bersemi

sulut api

sekam berapi

asa menanti

cinta dinanti

meredam api

renyuh hati

belajar karate… kihonnya dulu!

kira-kira baru 2 minggu belajar karate. gara-gara terlalu semangat saya berambisi untuk bisa dalam setiap kumite. kebetulan lawan tandem saya adalah seorang tipikal fighter sejati, dan saya kira bila ditempa dengan baik maka kelak akan menjadi fighter yang hebat!

hari demi hari, berlalu. sepertinya saya sudah sreg dengan karate! ketika itu, tadi malam saya membaca buku wawancara dengan shihan renshi achmad ali (dan 7 IKGA (International Karate-do Gojukai Association)). saya lahap sampai habis. dan menarik! disana saya baru tahu, bahwa dasar belajar karate adalah dimulai dari kihon (teknik dasar) nya dulu! menurut beliau, “bila kihonnya saja tidak benar, maka sikapnya pun tidak benar” dengan demikian karatenya pun tidak benar juga.

dari wawancaranya tersebut, beliau sangat menyayangkan apabila sudah ada yang memegang sabuk hita namun kihonnya saja masih kacau, misal ketika mawashi geri, mae geri, gyaku tsuki atau teknik lainnya tidak mencerminkan kihon yang benar. karena bagaimanapun, sebelum seseorang lebih lanjut mempelajari kata, belajar kumite, jiyu kumite, dsb mesti

menguasai kihon yang sebenarnya.

sebenarnya tidak salah pandangan Shihan Achmad Ali, karena di bawah instruksinya, tim indonesia (karate do gojukai) berhasil menyandang gelar

juara dalam kata beregunya (dalam event internasional tentunya).

oke deh. berarti saya mesti belajar kihon yang benar seperti apa! hosh… lalu

bagaimana dengan kumite?

kumite seharusnya merupakan aplikasi dari gerakan-gerakan yang ada. namun, sekarang ini, dan ada ahli karate mengatakan bahwa, sekarang ini kumite merupakan “pemiskinan teknik” dari karate-do itu sendiri. yah… benar juga sih, karena rata-rata di dalam kumite, hanya gyaku tsuki maupun mae geri saja yang digunakan. sedangkan mawashi geri pun jarang, apalagi teknik yang lain? hingga konon ada seorang master karate mengatakan, “kumite lebih baik diganti namanya menjadi ‘pertandingan teknik gyaku tsuki dan mae geri’ saja” (ahaha… sepertinya sindiran ini memang cocok n tepat yach n_n)

jadi, sebelum kumite… kihonnya dulu! ok? ^ ^

“asli” kah jilbabmu ini??

pernah ditanya kepada saya, tentang makna konsisten itu. sebenarnya apakah bentuk dari konsistensi yang ada, bilamana seseorang yang telah mencurahkan seluruh jiwa raga, memegang suatu tali yang erat untuk melaksanakannya dengan sebenar-benar ketulusan?

saya teringat, apa pun capaian yang orang inginkan, maka i’tikad awalnya lah yang menentukan. niat memang mempengaruhi amal perbuatan. suatu esensi yang teruji, tiada terbantahkan bagi banyak orang, dan terbukti dalam kehidupan nyata.

suatu singgungan pernah dilemparkan pada saya, mengenai pandangan saya tentang jilbab, dan tren berjilbab. sungguh, bukanlah pakar yang patut diberi pertanyaan tersebut! saya lantas bertanya, perihal pertanyaan tersebut, dalam lingkup apa akan tertuju?

mengenai esensi dari konsisten, sungguh indah bilamana jilbab yang para wanita kenakan adalah asli dan murni, dari i’tikad baiknya karena kesadaran diri dan bukan lagi sebagai suatu “kewajiban” saja, namun suatu “keperluan sehari-hari” yang tiada tertinggalkan. namun, bila disoroti tentang hati di balik semua orang, mana saya tahu. alasan untuk berjilbab pun mana saya tahu. karena semua orang punya jawabannya sendiri. semua punya kepentingan masing-masing.

realita menjawab, yang mengikuti tren, maka hanya tren lah pencapaiannya. tiada hakiki benar. bila hanya sebagai pelimpah rasa frustasi belaka, dari masalah duniawi, maka hanyalah begitu saja. aurat mereka benar telah terlindungi… namun apakah hati mereka juga terjilbabkan?

Bagi saya, semua orang bisa leluasa memakai jilbab. itu pun bisa sebagai kamuflase yang sempurna. namun, apakah berarti dia mampu memaknai arti jilbab ini, sebagai hijab mereka agar senantiasa dimuliakan? semboyan perdagangan pun muncul, “DO NOT ACCEPT IF SEAL IS BROKEN”. Berpakaian, namun tanpa hijab, seperti itu kah?

tentu saja, semua orang membantah, “lha wong saya berjilbab sudah lama, sama tahu akan maknanya”. semua orang bisa saja berkata, “saya kan baru belajar”. silahkan, anda belajar dari ahlinya. bisa jadi dari ahli trendsetter atau kah dari ahli yang mumpuni. toh ini cuman ada adanya saya saja.

tetapi mungkin bila kejadian seperti ini terjadi:

seorang berjilbab, kemudian berpacaran. suatu saat tiada hijab diantara mereka, dimana mereka berada dalam keadaan berdua, maka kemudian tiba-tiba semoga tidak terjadilah perbuatan yang diluar akal sehat manusia. tentu saja bila dilihat dari pandangan kasat mata, dia masih sama dengan orang lain, namun secara fisiologis, dia bukanlah dia yang dulu. dan waktu tiada berputar balik. akhirnya?……

silahkan anda sadari, bisa jadi kejadian diatas benar-benar adanya. saya tidak akan menjawab akan terjadi dimana, bisa jadi di jalan, bisa di mobil, bisa di penginapan, atau mungkin bisa saja di warnet?

saya hanya berpesan:
“berjilbablah sesuai syariat”

apakah itu? tanyakan lah pada ahlinya :D
——————————————————————————————

berikut adalah tanggapan dari teman-teman di friendster:

ketika jilbab hanya menjadi tren busana. inilah yang disebut berpakaian tapi telanjang. hijab yang benar adalah menutupi semua aurat tubuh (baik kulit maupun lekuk tubuh) kecuali wajah dan telapak tangan. (by Budi Susilo)

jilbab yang bener, adalah jilbab yang shar’iy. seperti di tulis mas budi diatas.

kl cuman kerudung yang nutup sebagian kepala, itu lebih disebut “kerudung” saja.

kata jilbab kan merujuk ke seluruh pakaian ya, bukan hanya kain kerudung itu doang, IMHO :D (Bang Hideyoshi)

Agama, Jawa, dan Indonesia

ada yang beranggapan begini,

Waktu jaman Majapahit, orang Jawa (Gajah Mada, dll) membuat nusantara makmur dan jaya. Orang jawa berkebudayaan tinggi, kreatif dan toleran.

Setelah Islam masuk di Jawa, negara kita hancur korban dari penajahan Belanda, Jepang, dsb. Korban dari korupsi, kekerasan/teror, malapetaka. Dan korban dari imperialisme Arab (Indonesia adalah negara pemasok jemaah haji yang terbesar di dunia). Bangsa Arab ini memang hebat sekali karena telah berhasil menemukan cara untuk memasukkan devisa untuk mereka sendiri. Sedangkan situasi ekonomi negara kita dalam keadaan yang sangat parah. Imperialisme Arab ini memang sangat kejam. Turun-temurun sampai anak-cucu, tidak tahu sampai kapan, nusantara diharuskan membayar “pajak” kepada Imperialisme Arab ini dengan alasan: kewajiban menjalankan rukun Islam.

Padahal, sebelum Islam masuk ke Jawa, orang Jawa sudah menganut agama universal yaitu agama Kejawen.

Bagaimana caranya supaya orang Jawa kembali bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini?

tanggapan:

sebenarnya bukan hanya orang Jawa saja. saya kurang setuju dengan adanya pemikiran Jawa sentris, karena nusantara meliputi sabang sampai merauke. alangkah baiknya jika pemikiran diarahkan “untuk segenap bangsa Indonesia bersama-sama memakmurkan negara tercinta ini”.

permasalahan yang terkait di atas, bukan berarti korelasi yang tepat dalam menggambarkan suatu agama (dalam hal ini yang menjadi obyeknya adalah Islam) dan dampaknya terhadap masyarakat Jawa. karena bagaimanapun, pluralisme akan tetap terlaksana.

tentu saja, bukan hal yang bijak bila kita meninjau dari satu segi arah saja, karena saya berprinsip semua permasalahan tersebut bukan dan tidak berasal dari agama, melainkan dari pemeluknya, atau dengan kata lain manusia yang menyandang titel “umat beragama” tersebut. tidak relevan bila kita sangkut pautkan dengan agama yang notabene semuanya mengajarkan tentang “hakikat rahmah bagi alam semesta”

tidak ada yang salah dengan segala praktik keagamaan, yang tentu selama sesuai dengan tuntunan, prosedural yang berlaku. karena bagaimanapun, bila kita hanya menunjuk pada satu titik permasalahan maka akan terjadi dikotomi.

memang, kewajaran akan ketidakpuasan dengan hal yang berbau agama bukanlah barang baru. konon saja, permasalahan indulgensia, tapa brata, bumi sentris, reinaissance, sampai poligami yang sedang dibahas ini sudah pasti menjadi topik yang hangat lebih dari dua dekade yang lalu. namun titik temunya justru adalah: kembali pada keyakinan masing-masing.

jadi harap maklum saja. semua akan kembali pada diri kita masing-masing.

cara memakmurkan negara? tentu saja dengan action yang real. yang mampu segera bertindak. karena hal itu bagaimanapun tanpa adanya yang mengawali untuk perbaikan, tidak akan pernah terjadi perbaikan.

siapa yang menanam, dia yang akan memanen. siapa yang memulai, maka yang lain akan mengikuti.

terima kasih ^^

bunga

kumerindukan bunga,

karena layu

dan dahan yang tiada bersokong

rapuh

waktu pun ikut bersahut,

“tunggulah semi”

perlukah?

Maret 1998

 untuk jiwa yang bersemayam di alam sana

tinggalkan torehan sejarah
pada selembar kertas basah
yang engkau penuhi dengan darah
melawan nafsu amarah

karena kini serentak suara
menolak segala samsara

segenap nafas kami padu
dalam balutan rindu
mengenang kembali detik-detik menyayat sendu

nb: sebenarnya ini muncul ketika membaca komen dari boekan poejangganya gun. hehe2x

Halaman Berikutnya »


rodi rodi

Juni 2007
M S S R K J S
« Mei   Jul »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
Dengan bangga menjatakan bahwa Shinobi adalah:

haruhiism

another artwork:

my photobucket