hehe untungnya saya tidak terlalu pusing memikirkan permasalahan yang ihwal datangnya tidak berujung pangkal tersebut. mungkin lantaran memang keterbatasan ilmu dan akal, sehingga patut saya syukuri juga.
karena panduannya juga perlu kehadiran hati tatkala membacanya, maka dalam merespon ini saya hanya menggunakan keterbatasan saya juga. terlebih dahulu, mohon maaf jika isi ini tidak begitu bernilai intelektual.
dalam kehidupan ini, memang seringkali kita terpaku pada pengkotakan pemikiran. seperti si kaya dan si miskin. dualisme dan pluralisme. sinergis dan antagonis atau apalah. padahal, boleh jadi ada kesamaan meskipun disadari orang-orang cenderung suka membedakan saja, biar simpel, terstruktur, rapi dan terkesan intelektual.
bagi dunia barat, hal ini tentu saja biasa. karena mereka terbiasa meruntut permasalahan, mengklasifikasikannya supaya jelas, bahkan memberi skor dari masing-masing permasalahan. jadi tidaklah heran, bila rating begitu berpengaruh pada kehidupan mereka. Dan disadari benar, bangsa kita ini cenderung latah. latah mungkin tren masa kini. tidak hanya bernilai komersial, namun baik untuk menjadi “cendekiawan-like people” atau bahasa kere’ nya adalah ”orang yang sepertinya maha tahu”.
permasalahannya sekarang adalah, sampai pada tingkat mana kita latah? padahal kita sadari bersama bahwa bangsa ini kerap kali disinggung sebagai bangsa di dunia ketiga. jadi bila kelatahan ini hanya untuk dijajarkan sama dengan bangsa lain, maka tidak berarti lantas kerangka pemikiran yang ada harus disesuaikan dengan mereka. setiap bangsa punya pandangan masing-masing, setiap individu punya kerangka pemikirannya masing-masing.
dekadensi identitas akibat kelatahan menempati urutan pertama. ini jelas mengingatkan saya akan perihal, “bangsa yang besar adalah bangsa yang tetap eksis tanpa meninggalkan nilai-nilai dari kebudayaannya sendiri”. sudi kiranya menilik di setiap kesempatan diskusi, banyak diantara kita menyadari nilai-nilai kebudayaan kita sendiri yang unggah-ungguhnya diperhatikan memiliki nilai luhur untuk membentuk individu yang bermartabat, tidak banyak diindahkan. belum lagi, kelatahan budaya yang merasuki jiwa-jiwa muda turut meruntuhkan semangat patriotisme dan nasionalisme mereka. sehingga dapat kita lihat sekarang adalah jiwa-jiwa tanpa identitas yang jelas, dengan rambut jigrak dan modis bak topeng diri.
disapa ama Bounty Hunter