Arsip untuk Juni 15th, 2007

Agama, Jawa, dan Indonesia

ada yang beranggapan begini,

Waktu jaman Majapahit, orang Jawa (Gajah Mada, dll) membuat nusantara makmur dan jaya. Orang jawa berkebudayaan tinggi, kreatif dan toleran.

Setelah Islam masuk di Jawa, negara kita hancur korban dari penajahan Belanda, Jepang, dsb. Korban dari korupsi, kekerasan/teror, malapetaka. Dan korban dari imperialisme Arab (Indonesia adalah negara pemasok jemaah haji yang terbesar di dunia). Bangsa Arab ini memang hebat sekali karena telah berhasil menemukan cara untuk memasukkan devisa untuk mereka sendiri. Sedangkan situasi ekonomi negara kita dalam keadaan yang sangat parah. Imperialisme Arab ini memang sangat kejam. Turun-temurun sampai anak-cucu, tidak tahu sampai kapan, nusantara diharuskan membayar “pajak” kepada Imperialisme Arab ini dengan alasan: kewajiban menjalankan rukun Islam.

Padahal, sebelum Islam masuk ke Jawa, orang Jawa sudah menganut agama universal yaitu agama Kejawen.

Bagaimana caranya supaya orang Jawa kembali bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini?

tanggapan:

sebenarnya bukan hanya orang Jawa saja. saya kurang setuju dengan adanya pemikiran Jawa sentris, karena nusantara meliputi sabang sampai merauke. alangkah baiknya jika pemikiran diarahkan “untuk segenap bangsa Indonesia bersama-sama memakmurkan negara tercinta ini”.

permasalahan yang terkait di atas, bukan berarti korelasi yang tepat dalam menggambarkan suatu agama (dalam hal ini yang menjadi obyeknya adalah Islam) dan dampaknya terhadap masyarakat Jawa. karena bagaimanapun, pluralisme akan tetap terlaksana.

tentu saja, bukan hal yang bijak bila kita meninjau dari satu segi arah saja, karena saya berprinsip semua permasalahan tersebut bukan dan tidak berasal dari agama, melainkan dari pemeluknya, atau dengan kata lain manusia yang menyandang titel “umat beragama” tersebut. tidak relevan bila kita sangkut pautkan dengan agama yang notabene semuanya mengajarkan tentang “hakikat rahmah bagi alam semesta”

tidak ada yang salah dengan segala praktik keagamaan, yang tentu selama sesuai dengan tuntunan, prosedural yang berlaku. karena bagaimanapun, bila kita hanya menunjuk pada satu titik permasalahan maka akan terjadi dikotomi.

memang, kewajaran akan ketidakpuasan dengan hal yang berbau agama bukanlah barang baru. konon saja, permasalahan indulgensia, tapa brata, bumi sentris, reinaissance, sampai poligami yang sedang dibahas ini sudah pasti menjadi topik yang hangat lebih dari dua dekade yang lalu. namun titik temunya justru adalah: kembali pada keyakinan masing-masing.

jadi harap maklum saja. semua akan kembali pada diri kita masing-masing.

cara memakmurkan negara? tentu saja dengan action yang real. yang mampu segera bertindak. karena hal itu bagaimanapun tanpa adanya yang mengawali untuk perbaikan, tidak akan pernah terjadi perbaikan.

siapa yang menanam, dia yang akan memanen. siapa yang memulai, maka yang lain akan mengikuti.

terima kasih ^^

bunga

kumerindukan bunga,

karena layu

dan dahan yang tiada bersokong

rapuh

waktu pun ikut bersahut,

“tunggulah semi”

perlukah?


rodi rodi

Juni 2007
M S S R K J S
« Mei   Jul »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
Dengan bangga menjatakan bahwa Shinobi adalah:

haruhiism

another artwork:

my photobucket