pernah ditanya kepada saya, tentang makna konsisten itu. sebenarnya apakah bentuk dari konsistensi yang ada, bilamana seseorang yang telah mencurahkan seluruh jiwa raga, memegang suatu tali yang erat untuk melaksanakannya dengan sebenar-benar ketulusan?
saya teringat, apa pun capaian yang orang inginkan, maka i’tikad awalnya lah yang menentukan. niat memang mempengaruhi amal perbuatan. suatu esensi yang teruji, tiada terbantahkan bagi banyak orang, dan terbukti dalam kehidupan nyata.
suatu singgungan pernah dilemparkan pada saya, mengenai pandangan saya tentang jilbab, dan tren berjilbab. sungguh, bukanlah pakar yang patut diberi pertanyaan tersebut! saya lantas bertanya, perihal pertanyaan tersebut, dalam lingkup apa akan tertuju?
mengenai esensi dari konsisten, sungguh indah bilamana jilbab yang para wanita kenakan adalah asli dan murni, dari i’tikad baiknya karena kesadaran diri dan bukan lagi sebagai suatu “kewajiban” saja, namun suatu “keperluan sehari-hari” yang tiada tertinggalkan. namun, bila disoroti tentang hati di balik semua orang, mana saya tahu. alasan untuk berjilbab pun mana saya tahu. karena semua orang punya jawabannya sendiri. semua punya kepentingan masing-masing.
realita menjawab, yang mengikuti tren, maka hanya tren lah pencapaiannya. tiada hakiki benar. bila hanya sebagai pelimpah rasa frustasi belaka, dari masalah duniawi, maka hanyalah begitu saja. aurat mereka benar telah terlindungi… namun apakah hati mereka juga terjilbabkan?
Bagi saya, semua orang bisa leluasa memakai jilbab. itu pun bisa sebagai kamuflase yang sempurna. namun, apakah berarti dia mampu memaknai arti jilbab ini, sebagai hijab mereka agar senantiasa dimuliakan? semboyan perdagangan pun muncul, “DO NOT ACCEPT IF SEAL IS BROKEN”. Berpakaian, namun tanpa hijab, seperti itu kah?
tentu saja, semua orang membantah, “lha wong saya berjilbab sudah lama, sama tahu akan maknanya”. semua orang bisa saja berkata, “saya kan baru belajar”. silahkan, anda belajar dari ahlinya. bisa jadi dari ahli trendsetter atau kah dari ahli yang mumpuni. toh ini cuman ada adanya saya saja.
tetapi mungkin bila kejadian seperti ini terjadi:
seorang berjilbab, kemudian berpacaran. suatu saat tiada hijab diantara mereka, dimana mereka berada dalam keadaan berdua, maka kemudian tiba-tiba semoga tidak terjadilah perbuatan yang diluar akal sehat manusia. tentu saja bila dilihat dari pandangan kasat mata, dia masih sama dengan orang lain, namun secara fisiologis, dia bukanlah dia yang dulu. dan waktu tiada berputar balik. akhirnya?……
silahkan anda sadari, bisa jadi kejadian diatas benar-benar adanya. saya tidak akan menjawab akan terjadi dimana, bisa jadi di jalan, bisa di mobil, bisa di penginapan, atau mungkin bisa saja di warnet?
saya hanya berpesan:
“berjilbablah sesuai syariat”
apakah itu? tanyakan lah pada ahlinya ![]()
——————————————————————————————
berikut adalah tanggapan dari teman-teman di friendster:
ketika jilbab hanya menjadi tren busana. inilah yang disebut berpakaian tapi telanjang. hijab yang benar adalah menutupi semua aurat tubuh (baik kulit maupun lekuk tubuh) kecuali wajah dan telapak tangan. (by Budi Susilo)
jilbab yang bener, adalah jilbab yang shar’iy. seperti di tulis mas budi diatas.
kl cuman kerudung yang nutup sebagian kepala, itu lebih disebut “kerudung” saja.
kata jilbab kan merujuk ke seluruh pakaian ya, bukan hanya kain kerudung itu doang, IMHO
(Bang Hideyoshi)


by: joerig

disapa ama Bounty Hunter