maki dirimu, dua tiga kali, hingga serak parau
karena dunia bukanlah semak belukar, yang mudah terbakar sewaktu-waktu
tatkala kering kerontang, berbalut telaga dahaga:
tercekik suara~ nyaris semu meronta
aku tiada timpal prasangka, karena duga yang menganga
layaknya luka sayatan, pada sendi yang terbujur kaku:
lengan terikat, mulut dibalut, mengekang ungkapan bualan rindu
yang engkau dendangkan, memecah keringat asa
biarlah sesal yang berhitung waktu, jangan engkau!
karena sempal yang mengganjal hanya membuat gusar tersungkur


by: joerig

kalau saya amati, semakin tidak paham sebuah ungkapan sastra, maka semakin bagus… contohnya di koran² kalaua da puisi di situ, kebanyakan g ngerti … kenapa sih gak ngerti kok dikatakan baguss… duuh wong ndeso iki kepengen tahu loh…
artinya, karrena aku g mengerti ungkapan sastramu, jadi dianggap tulisan postingan ini good good good… heheh
Hahaha,,,
saya sama dgn yg diatas ini deh^^^^
iya juga… kadang kala malah sok ngerti, padahal mah???
ayo ke jepang
sastra—selalu bikin aku ngantuk sebelum selesai baca halaman pertama…
heheh makasih atas komen dan sarannya
maaf jarang buka ^ ^
bagus sobat!
terlalu kelam. saya sulit merasakan.
namun keindahannya, saya suka.
anda beri nuansa baru.
kunjungilah blog saya