Arsip untuk Maret, 2008

pujangga kamar mandi

Dikau pujangga kamar mandi,
menggerutu lewat garukan tanganmu
bersiul menunggu ilham turun dari langit,
kemudian tangan mu memegang gayung ”senjata” penat
beradu syahwat,
lalu bertumpuk aroma keramat,
“ah begitu susahnya menjadi pujangga hari ini”, keluhmu
lalu engkau menukar batu dengan lembaran-lembaran tentamen
hanya untuk melapi lubang pistolmu dari sisa amunisimu yang belepotan itu
yang kau gunakan tuk melumpuhkan rasa sakit pada usus besarmu
hingga terbuang begitu saja, tidak terhitung jumlahnya, dan kini lembaran-lembaran itu tinggal sejarah dan bersaksi:
bahwa ada seseorang mengabadikan pengabdiannya sebagai seorang
pujangga kamar mandi

mantaff… afrosidiak!!!

khasiat mengalahkan kata-kata
*evil mode: on*

cuman naik 500, man!

laporan dari desa iga:

ninja-ninja di iga kewalahan menunggu antrian beli abon ayam khas Zaemur Ramon (indonesia: Zaenuddin). konon, abon ayamnya terkenal sip dan bagus untuk menambah vitalitas, agilitas, dan juga deksteritas ehehehe. namun ketika hari ini tiba, semua yang ngantri harus puas memelas dengan mata terbelalak, “harga yang dulunya 6500 zeny dan ga pernah naik selama 10 tahun (emang ada?) lebih sekarang naik 7000 zeny!!!!”

Zaemur membuka rahasia mengapa harga abon ayamnya naik. Laris kah? mungkin juga, tapi doi geleng-geleng kepala. bukan berarti doi lagi triping loh. Kalo bukan laris, terus apa? Nah si doi akhirnya buka mulut dan ngomong~tapi rada keseret-seret gitu~, “sori bung/non, harga minyak naik 500 zeny!”

ternyata larisnya abon dengan harga yang cukup stabil itu dikalahkan dengan naiknya harga minyak yah ^ ^ betewe, shino juga ikut beli abonnya. enak, mau coba? ahahaha sekilas informasi dari desa shino. gue cabut lagi tha tha :)

sastrawan kupu-kupu

Setahun aku menggeliat, bagai ulat tersapu debu, di padang dahaga
tanpa asmara, tanpa pelukan cinta,
Terlahir dari ibu seorang lalat, bermula dalam semuram larva,
kumerindu dalam hangat kepompong,
berkelana mencari bentuk serba guna
hingga ku berkhayal: mati dalam bentuk serba rupawan.
Lalu semua serba berupa, tiada berubah
aku pun terpatuk pada kaidah-kaidah alam:
tiada liar, ganas, tunduk pada terik mentari
aku meraung, agak terseret, hanya tersisa luka lecet
Namun raungan itu hanya sehela napas tertarik: tercekik dalam bentuk
lalu terkubur dalam rasa, indahnya metamorfosa.
Kini aku ulat bersayap, terbang, berangguk-angguk dalam elok
namun ku tetaplah ulat! terperangkap dalam bentuk, meliuk dalam kata-kata anggun
lalu membatu pada etalase museum,
yang kini tercatat dalam memoar : “penjara kolosal bagi sastrawan era ‘90 an”

kondom totol merah jambu

Kondom totol merah jambu itu

berlabuh hingga ke tepian

membelai lumut

menghantam karang,

bersandar di sela-sela bebatuan.

Kondom totol merah jambu itu

lemas,

saksi dari pesta sejenak

pelepas penat

dari dahaga kebahagiaan

dan cinta yang kering meronta

Seperti sajak

yang tumbuh

dari keringnya dunia

yang kini makin fakir

dan kafir pada lembaian cinta