Setahun aku menggeliat, bagai ulat tersapu debu, di padang dahaga
tanpa asmara, tanpa pelukan cinta,
Terlahir dari ibu seorang lalat, bermula dalam semuram larva,
kumerindu dalam hangat kepompong,
berkelana mencari bentuk serba guna
hingga ku berkhayal: mati dalam bentuk serba rupawan.
Lalu semua serba berupa, tiada berubah
aku pun terpatuk pada kaidah-kaidah alam:
tiada liar, ganas, tunduk pada terik mentari
aku meraung, agak terseret, hanya tersisa luka lecet
Namun raungan itu hanya sehela napas tertarik: tercekik dalam bentuk
lalu terkubur dalam rasa, indahnya metamorfosa.
Kini aku ulat bersayap, terbang, berangguk-angguk dalam elok
namun ku tetaplah ulat! terperangkap dalam bentuk, meliuk dalam kata-kata anggun
lalu membatu pada etalase museum,
yang kini tercatat dalam memoar : “penjara kolosal bagi sastrawan era ‘90 an”


by: joerig

Bikinan sapa tuh puisi?
tentu saja shinobi
dan masih terjebak dalam keindahan kata 
semakin banyak yang terinfeksi sastra cyber.. hehehehe
@ gempur : asal fight against piracy…. setuju
ibu seorang lalat?
lalat bukannya seekor ya??
*kabur*
mengerikan juga… seorang lalat
seekor lalat mengerikan apalagi lalat jadi orang ya ^ ^
Kadang masih blon percaya lho.. kalo kamu biasa bikin puisi2 gitu, secara aku udah kenal kamu real.. ndak ada tampang2nya gitu hihihi
sensei just .. ^^
bagus banget puisinya .. imaginatif ^^
?
skarang sibukz apa sensei? masih piara bebek
bener kata shige. puisinya imaginatif dan alamiah banget. buatan sendiri?
@ nne: memang salah ibunya “seorang” lalat???
*asah-asah shuriken*
@ ifa: dunia “shinobi” memang penuh misteri, mbak
@ shige: thx
masih, sekarang ayam. mau mulai lagi. pengen ikutan peliharanya? ^ ^
@ pink: thx
puisi ini shino gubah karena menyadari beginilah yang terjadi pada dunia sastra di negeri shinobi ehhehe
yo salam budaya!