Bagi warga Jawa Tengah pada umumnya, sosok Pak Masdi Soenardi yang sering dijuluki “Pak Kancil” ini sangat dikenal dengan karyanya yang dimuat di surat kabar Suara Merdeka. Ya, tentu saja: Pak Bei. Beliau kini telah berpulang ke rahmatullah, Rabu dini hari tanggal 25 Juni 2008 kemarin di rumahnya di Dusun Gedongan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Almarhum diduga mengalami sesak napas selepas menonton acara televisi. Konon, almarhum menderita sakit jantung, dan telah beberapa bulan ini belum pernah dicek kembali ke dokter. Almarhum meninggalkan istri, Murtilam, empat anak dan tiga cucu. Keempat anaknya adalah Sutopo Wintarto, Edi Warsito, Dahono Fitrianto, dan Inten Esti Pratiwi. Cucunya, Aria Danang Wijanarko, Ariana Nareswari, dan Luna Cahya Kinasih.
Sosok almarhum Pak Masdi dimata saya tentu saja sebagai salah satu kartunis Indonesia yang saya kagumi, selain G.M Sudharta (kartunis Oom Pasikom di Kompas). Gaya beliau sangat khas, terutama melihat tingkah laku Pak Bei yang sangat sederhana namun menggelitik. Yah, inilah yang mungkin menjadi gambaran tentang siapa Pak Masdi itu sebenarnya. Pelukis Borobudur, Umar Chusaeni mengatakan, almarhum merupakan kartunis di Jateng yang karyanya sangat menarik juga sebagai penyemangat seniman di Borobudur.
Sosok Pak Masdi juga begitu terkenal dikalangan kartunis lainnya. Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni Borobudur juga sangat kehilangan dengan berpulangnya almarhum. Semasa beliau aktif, beliau bahkan memiliki impian untuk menjadikan serial Pak Bei ke dalam bentuk film. Bahkan beliau sempat menunjuk pemeran Den Baguse Ngarso pada serial TVRI Yogyakarta sebagai pemeran utamanya. Sungguh disayangkan, beliau telah pergi secepat ini…
selamat jalan… Pak Masdi… Pak Bei akan terus hidup dalam hati masyarakat Jawa Tengah dan Indonesia pada umumnya….
Saya turut berduka cita dan mendoakan agar beliau diampuni segala dosanya, dan diterima dengan layak di sisi-Nya. Amin.



by: joerig

disapa ama Bounty Hunter