aku adalah angin dikeheningan malam
tiada jiwa menyadarinya
namun, kala dinginku kian menjelma
semua kan menjadi beku dan membatu
shinobi hari ini adalah shinobi hari kemarin yang telah menjadi shinobi yang akan datang
aku adalah angin dikeheningan malam
tiada jiwa menyadarinya
namun, kala dinginku kian menjelma
semua kan menjadi beku dan membatu
konon beredar kabar bahwa T I M mau dijual nih. waduh…. kok bisa?
tapi setelah ditelusuri, ternyata T I M yang dimaksud adalah,
Taman Ibrahim Marzuki. Bahasa Bodornya,brahim Marzuki itu
ayahnya Ismail Marzuki. Tidak bisa dipertanggungjawabkan
keshahihannya emang.
Konon, T I M itu dijual lantaran alm. Ibrahim Marzuki
telah melimpahkan ke tangan ahli waris, hanya saja
Ahli Warisnya merasa T I M terlalu boros
dalam biaya maintenance. Padahal nilai historinya tidak bisa Diuangkan begitu saja. Namun karena dari pihak keluarga I M,
terutama anak sulungnya, Ismail Marzuki sudah punya
taman sendiri, maka apa boleh buat?
dinegolah ke pedagang buah kesemek dari luar negeri.
Kasihan ya?
Tapi tenang saja, ini hanya obrolan surealis….. ^ ^
Setahun aku menggeliat, bagai ulat tersapu debu, di padang dahaga
tanpa asmara, tanpa pelukan cinta,
Terlahir dari ibu seorang lalat, bermula dalam semuram larva,
kumerindu dalam hangat kepompong,
berkelana mencari bentuk serba guna
hingga ku berkhayal: mati dalam bentuk serba rupawan.
Lalu semua serba berupa, tiada berubah
aku pun terpatuk pada kaidah-kaidah alam:
tiada liar, ganas, tunduk pada terik mentari
aku meraung, agak terseret, hanya tersisa luka lecet
Namun raungan itu hanya sehela napas tertarik: tercekik dalam bentuk
lalu terkubur dalam rasa, indahnya metamorfosa.
Kini aku ulat bersayap, terbang, berangguk-angguk dalam elok
namun ku tetaplah ulat! terperangkap dalam bentuk, meliuk dalam kata-kata anggun
lalu membatu pada etalase museum,
yang kini tercatat dalam memoar : “penjara kolosal bagi sastrawan era ‘90 an”
Kondom totol merah jambu itu
berlabuh hingga ke tepian
membelai lumut
menghantam karang,
bersandar di sela-sela bebatuan.
Kondom totol merah jambu itu
lemas,
saksi dari pesta sejenak
pelepas penat
dari dahaga kebahagiaan
dan cinta yang kering meronta
Seperti sajak
yang tumbuh
dari keringnya dunia
yang kini makin fakir
dan kafir pada lembaian cinta
kala aku bernapas, ku hela saja udara dingin ini sampai tak tersisa
karena bayangku masing terawang-awang
dan bayangmu masih dalam karangan
lalu kita bermain mesra dalam isyarat:
engkau mencibir, aku mendesir
hingga lupa daratan tuk berpijak, kita pun jatuh
menghujam bumi
bersiul riang
lalu menghilang,
menyisakan sepenggal cinta berselimut jerami
26 februari 2008
untuk bayanganku yang bertamasya di luar negeri
disapa ama Bounty Hunter