daripada terserak dalam kerongkongan

memang malam ini terasa asing di telingaku. saat hujan membasahi hampir seperdua jalan menuju jogja. padahal saya hanya mondar mandir saja di gedung cokelat ini, tempat kuliah seperti biasa. hujan memang tidak kenal ampun. sesekalipun tiada waktu bagi saya untuk berlatih membengkakkan amandel saya!!!!

ah sudahlah, bukannya aku tidak mau dianggap sok sopan. karena terlalu banyak saya saya yang muncul dari keakuanku yang hanya sepenggal tarikan nafas saja. dulu saja aku pun hidup mendua, bukan demi apa-apa, bukan pula karena cinta tak terbalaskan. namun karena penyakit mencerna ku yang sudah kambuh lagi, urung usai sampai sekarang. sakit sih, rasanya namun tidak begitu perih. tidak ada dokter yang mau memeriksa pula. katanya, “terlalu menahannya sedari dulu”.

ah batu pualam batu pualam. aku kira kau terbentuk dari kotoran sapi yang sengaja terurai oleh mikroba sebagai proses pembentukan kompos. ternyata aku salah. kau tiada lebih hina dari nyanyian bisu yang aku lantunkan di sendu malam penuh cipratan air hujan ini. kadang termengu melamun meratapi kebodohan yang aku sendiri sulit membiarkannya lepas, karena sudah menjadi satu jiwa seraya tiada mampu kulepaskan kembali. sulit memang, aku sendiri mau berubah dengan berbagai pertimbangan. namun aku bukanlah pemegang stakeholder tunggal. aku tidak mungkin memegang keputusan tunggal akan diriku ini.

ah bebatuan dan pasir yang lembab basah. seakan-akan mengejekku karena ku telah diam lama, sehingga tenggorokanku kembali kumat, sumpek penuh dengan kata-kata yang mengganjal nafasku. padahal sudah kupastikan basi bila aku muntahkan, daripada ku ungkapkan dengan nada menyinggung. ah, nanti aku yang kena semprot, pikirku. sekarang jaman balas dendam. budi baik dibalas apa? selimut? paling juga pasal-pasal itu itu saja yang engkau lampiaskan karena engkau menganggap diriku kuno.

duh bimbangnya diriku! kenapa tidak ku biarkan saja kata-kata ini meluap begitu halusnya? toh aku berani siap menerima, jasad mengapung dalam kolam susu atau dibiarkan mengapung dalam selokan. aku kira sama-sama menjadi jasad yang tidak berdaya, tidak ada bedanya. daripada pulang pergi dokter spesialis hanya untuk masalah amandel ini. garis hidupku sudah tergambar jelas! siapa yang berani melawan takdir?

ah otak-otak komputer. kau pastinya jenius. katakan padaku, kapan kiranya aku mampu berucap? bila begitu apakah dia akan mendengarkan keluh kesah ku? ungkapan penuh rasa kangen ku? atau hanya isapan jempol belaka? benar, aku sangat merindukan saat-saat itu! ketahuilah, aku telah basah. aku tidak mau mundur karena takut diriku terbawa hanyut. aku tidak tahu kapan arus yang jeram tersebut kembali menyambut jasadku ini. kau pun tahu, bila ku bersentuhan dengan mu, gampanglah kiranya ku akhiri diriku. karena aliran listrik akan menamatkan kisah antara kau dan aku.

sudahlah. aku titip pesan saja. untaian kertas yang ku ikat pada setangkai bunga mawar yang aku pilih dari halamanku. aku tidak berharap akan diterima. karena warna merah muda ini mengingatkan ku setahun yang lalu, sebelum warna itu melekat padanya. kau tahu? aku perlu melangkah beberapa ratus langkah panjang untuk menemukannya. aku senang, karena pintaku pada-Nya terkabul, meski hanya sampai setengah hari saja. dia jelas bukan bunga yang tumbuh kemarin sore, lalu siap menyapaku malam ini. dia akan memilih kumbang yang mana akan singgah di pelukannya. meskipun tentu aku tahu kisah akhirnya, kumbang itu bukanlah diriku.

kemarilah. aku ingin berbisik sesuatu padamu. kau tahu, bila kelak dia menemukanku kembali, itu akan lama dan mungkin walaupun kecil kemungkinannya. kala itu, aku telah lunas berhutang padanya. aku sudah tidak lagi membayang-bayangi hidupnya. karena mungkin aku tinggalah nama saja, euforia sesaat. atau aku sudah berpaling darinya. atau mungkin, aku tidaklah sebugar yang dulu, yang mampu berjalan berkilo-kilo jauhnya. namun yakinlah, namanya akan terukir pada nisan yang telah ku buat sebelum itu terjadi. aku akan simpan nisan itu dalam hatiku, biarkanlah menjadi saksi bisu antara kami berdua.

semoga saja ada secercah harapan sehingga dari celah yang sempit ini, cahaya mampu menyinari nisan ini. dan sebelum sesal muncul kemudian, aku akan mengungkapkan apa yang tersumpal sejak lama dengan senyum termanis yang aku hanya bisa berikan sampai mata ini melihatnya untuk terakhir kalinya.

0 Responses to “daripada terserak dalam kerongkongan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




rodi rodi

Juli 2007
M S S R K J S
« Jun   Agu »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Dengan bangga menjatakan bahwa Shinobi adalah:

haruhiism

another artwork:

my photobucket


%d blogger menyukai ini: