Berharap Tuhan Menjadikannya sebagai Bidadari di Surga

ini merupakan kisah nyata, dari seseorang yang pernah bertegur sapa dengan saya……

semoga kisah ini ada hikmahnya bagi para blogger/pengunjung semuanya

Lin, demikian orang-orang sekitar memanggil dirinya. Gadis cantik keturunan Tionghoa yang masih belia. Anaknya penurut, rendah hati, dan mudah akrab dengan siapa saja. Anaknya juga lincah dan suka bersepeda kesana-kemari hingga ketika anak itu mampir di suatu tempat, siapa pun tidak akan lupa dengan dirinya. Garis keturunannya juga baik. Asal tahu saja, Lin merupakan anak dari pengusaha bengkel yang terkenal di kotanya.

Suatu saat, sepulang sekolah (SMP), ban sepeda Lin bocor. Lin kebingungan, lantaran jarak rumah dengan sekolah yang terbilang amat jauh, melewati pekarangan sawah yang cukup luas. Hari itu, di siang hari sinarnya tidaklah sebegitu terik. cukup mendung. Lin berpikir, bila tidak cepat-cepat pulang, dirinya akan kejatuhan hujan dari langit kelak.

Seketika itu, sosok anak kecil bernama Zaenul berpapasan dengannya. Anak yang setara usianya dengan Lin, memandangi Lin dengan wajah heran. Lekas dia turun dari sepeda, berjalan menuju Lin yang air matanya hampir menyentuh pipi mungilnya. Sebentar dia memandang ban sepeda Lin yang bocor. Kemudian senyumnya yang lugu muncul dari selip-selip topi yang menutupi wajahnya. “Sepeda ini sepertinya bisa kamu bawa”, ujarnya sambil menunjuk ke arah sepeda gunung ukuran anak-anak berwarna merah.

Lin terkejut.

“Lantas, bagaimana dengan kamu?”

Anak itu menganggukkan kepalanya.

“Aku bawa sepedamu untuk di<em>betulin</em>. Kebetulan kita satu sekolah. Besok saja, sesampainya di sekolah lagi, temui aku di kelas 1-2. Cari saja yang namanya Zaenul, OK?”

Lin gembira. dia menemukan sahabat yang muncul pada saat dia kesusahan. Kemudian mereka berdua pulang bersama. Mereka saling bercakap-cakap. Tentu saja, ala anak-anak: Ringan, Lugu, penuh tawa canda, tanpa balutan emosi. Tak terasa, hingga esok hari mereka bertemu bersama. Lin ternyata adalah kakak kelas Zaenul.

Mungkin takdir telah menggariskan jodoh diantara mereka. Peristiwa yang sama terjadi oleh Lin sampai tiga kali. Dan tentu, secara tidak kebetulan, Zaenul yang berpapasan dengannya dengan senang hati meminjamkan sepedanya pada Lin. Hingga Lin merasa tidak enak hati. Untuk kali ketiganya, ketika Zaenul menawarkan diri untuk membawa sepeda Lin dan menambalkannya, Lin meminta tolong agar dia tolong diantarkan pulang oleh Zaenul.

Zaenul dan Lin yang polos, mereka akhirnya pulang bersama. Sesampainya di depan rumah Lin, Bapak Lin baru saja pulang. Pria tua yang berperawakan tinggi dan kekar itu menatapi bocah-bocah yang baru pulang dari sekolahnya. Zaenul gemetar. Tentu saja, dia takut dimarahi oleh Bapaknya Lin karena membonceng Lin pulang. Ketakutan yang wajar dari seorang bocah usia SMP. Namun apa yang terjadi kemudian?

Bapaknya Lin memanggil Zaenul untuk masuk ke rumahnya. Ternyata, sosok pria yang terlihat sangar itu murah senyum rupanya. Sang bapak menyodorkan papan catur padanya, sembari menantang, “temani aku main catur terlebih dahulu, baru bisa bermain dengan putriku”. Zaenul yang tegang, lega beribu lega. Dia bermain tiga kali, dua kali menang dan sekali kalah. Sang bapak terlihat puas, kemudian menjamunya untuk makan. Bahkan, ketika waktu Sholat, sang bapak tak segan untuk mempersilahkan Zaenul untuk sholat, “silahkan, kebetulan di sini juga ada sajadah dan sarung. pakai saja”. Zaenul merasakan kehangatan keluarga Lin, dan merasa dirinya sebagai bagian dari keluarga itu.

dan keakraban Zaenul pun berlangsung lama…..

Saat SMA, mereka terpisah. Zaenul masuk SMK elektro, dan Lin masuk SMEA. Mereka jadi jarang bertemu. hingga suatu saat, ketika Zaenul beserta teman-temannya lagi di tempat fotokopi, seorang temannya menantang Zaenul untuk “bertaruh” berkenalan pada seorang gadis SMA. Zaenul tahu, bahwa yang ditunjuknya bukan lain adalah Lin! dan dengan serentak dia menerima tantangan dari temannya tersebut.

Zaenul kemudian menghampiri Lin, dan menyapanya. Lin terkejut! dia melihat sosok yang dia kenal yang tiada lain adalah Zaenul! kemudian mereka melakukan semacam sandiwara agar terlihat baru berkenalan. Lin yang kebetulan akan fotokopi, mengajak Zaenul untuk ke arah tempat fotokopi, dimana teman-teman Zaenul nongkrong. Teman-teman Zaenul tercengang setengah mati! Mereka melihat keakraban Zaenul dan Lin yang benar-benar “lebih dari sekedar kenalan baru”. Hingga, ketika Lin pulang, teman-temannya penasaran, dan minta tips dan trik agar bisa seperti apa ang dilakukan oeh Zaenul. Zaenul yang tahu kemudian berkata, “Saya itu pake “jampi-jampi” (tentunya tidak benar demikian ^ ^’) yang bisa mengikat wanita dengan cepat. Kalian boleh saja ikut menggunakannya, tapi saya tidak jamin loh keampuhannya, terlebih-lebih bila teman-teman suka berbohong, suka berjudi, dll”. Tentu saja, Zaenul tidak mau mengatakan bila dia telah lebih tahu Lin daripada mereka.

Kemudian, kedekatan Zaenul dengan Lin makin erat. Hingga mereka pun dijodohkan oleh orang tua mereka berdua. Lin yang akrab dengan Zaenul, akhirnya menjadi muallaf. Dan Zaenul pun memiliki nama timur dari keluarganya Lin.

Suatu ketika….

Zaenul yang akan selesai, harus magang di bengkel selama 2 bulan. Namun nasibnya sial, ketika Zaenul mengajukan lamaran, ternyata telah telat semua. Semua bengkel telah terisi penuh! dan tidak menerima lowongan apapun! Zaenul yang habis dari suatu bengkel dari penolakan kemudian duduk termangu di depan gerbang. Dia merenungi nasibnya. Selang beberapa waktu, terlihat mobil yang dia merasa sangat kenali betul melintas di depannya, masuk ke arah bengkel tersebut. Namun, Zaenul tidak begitu menghiraukannya. Hingga beberapa saat kemudian, seorang satpam menghampiri Zaenul dan mengatakan bahwa dia dicari oleh anak bos bengkel tersebut. Terkejutlah Zaenul, bahwa seseorang itu tidak lain adalah Lin!

Lin lalu menyapanya, “Sedang menungguku ya?”

Zaenul tersenyum, “Iya nih, sedang menunggu Lin… juga sedang bingung mencari tempat magang”

Lin lalu mendengar cerita dari Zaenul. Kemudian, Lin meminta agar Zaenul memperlihatkan CVnya sekali lagi pada bagian kepala bengkel. Kepala bengkel yang sadar bahwa Zaenul adalah kenalannya Lin kemudian menerimanya dengan senang hati sembari minta maaf. Zaenul merasa tidak enak hati, dia tetap rendah hati dan mengatakan tidak perlu untuk minta maaf, dan berpesan agar identitasnya tidak diberitahu ke rekan kerjanya dan semua yang ada di bengkel.

Zaenul pun bekerja seperti halnya orang-orang PKL kerja. Kadangkala senior di bengkelnya tidak segan-segan mempermainkannya. Namun Zaenul pun tidaklah begitu mempermasalahkan. Ada suatu cerita menarik, ketika Zaenul ingin minum air yang dingin, namun dispenser yang ada hot and cold water hanyalah untuk pegawai kantornya, dia memiliki ide untuk membawa satu botol mineral ukuran 1,5 L dan memberinya pada Lin. Lin heran kenapa tidak dia saja yang mengambilnya langsung. “Ngga enak ah, ntar dimarahi oleh atasan”, celetuk Zaenul yang dengan cepat disambut tawa geli Lin. Bahkan suatu ketika, Zaenul yang sedang mencoba untuk mengisi sendiri, ditegur oleh salah satu karyawan. Lin pun mengisyaratkan bahwa orang itu (Zaenul maksudnya) pengecualian, boleh ambil minum di sana. Suasana bengkel yang panas, dengan seteguk air yang dingin membuat diri menjadi adem. Senior dan rekan kerja yang lain pun pada melihat dan pada berebutan. bahkan, mereka tak segan-segan minta tolong Zaenul untuk ambil air hehehe (dan untungnya Zaenul itu orangnya baik, jadi ngga banyak menuntut).

Pada bulan itu pula, adalah bulan Agustus. Bulan dimana Lin merayakan ulang tahunnya yang ke 19. Tepat pada hari ulang tahunnya, Lin mengadakan acara spesial, yaitu merayakan ultahnya di bengkel bersama segenap karyawan dan rekan kerjanya. Zaenul pada waktu itu memberi kejutan. Dia berdiri di belakang, bersama rekan-rekan magangnya. Dengan berpakaian rapi, wangi, dia menikmati acara tersebut. Hampir pada waktu kemudian, ayahnya berpidato di depan umum.

“ketahuilah rekan-rekanku sekalian, pada hari ini merupakan hari yang spesial bagi anak ku. Di hari ini, hari ulang tahunnya, telah kedatangan tamu spesial. Yaitu calon suaminya. Calon Suaminya telah hadir, tepat di tengah-tengah hadirin semua. Ijinkanlah Lin untuk memberikan kue nya yang pertama pada Calon suaminya itu!”

Lin pun berjalan mencari-cari Zaenul. Zaenul ngumpet, membiarkan Lin kebingungan dahulu. Kemudian Zaenul nongol dan Lin pun bergembira. Kue pun diberikan padanya. Serentak para hadirin terheran-heran, ternyata pria yang selama ini magang di sana adalah tak lain calon suami Lin. Zaenul memberi kecupan tanda hadiah pada Lin. dan tentu saja, kegembiraan berbalut keharuan menjadi satu.

Sepasang insan yang telah lama berkenalan…. dari sekedar teman menjadi teman dekat… hingga menjadi “teman yang spesial” dalam hidup mereka…

Tidak peduli kelemahan masing-masing, mereka pun saling melengkapi dan saling menerima apa adanya.

Tidak ada rasa bahwa saya adalah anak keturunan mana… dimata mereka, semua adalah sama. orang tua mereka pun demikian.

mungkin…. yah…. bisa dibilang inilah mosaik kehidupan…

dan mungkin, ini lah momen-momen terindah bagi Zaenul dan juga Lin….

sebelum takdir Tuhan berkehendak lain….

Suatu malam…. beberapa bulan setelahnya…..

Saat itu, Lin beserta kakak perempuan dan bibinya menaiki mobil. Lin yang memegang kemudi mobil tersebut. Mereka sedang menuju ke acara keluarganya. Hingga tiba lah di perempatan jalan. Terlihat sebuah motor dikendarai dengan sangat kencang dari arah samping, tepat ketika mobil Lin ingin belok. Motor itu lantas menabrak pintu pengemudi, dimana Lin adalah pengemudinya. Tabrakan kencang itu merenggut nyawa Lin kemudian…..

Zaenul yang mengetahui kabar tersebut, langsung menuju rumah sakit. Namun apa daya, Lin sudah tidak ada. Lin yang akan segera naik ke pelaminan, harus mengakhiri kisahnya di dunia. Zaenul tidak begitu sedih. Dia adalah sosok yang tegar, yang telah teruji ketika dulu saat Lin menerima musibah. Zaenul mengenang masa lalunya yang indah…. dan dengan hangatnya turut mengantarkan jenazah Lin hingga ke tempat peristirahatan.

……………….

Kuburan Lin memang begitu sepi. di kompleks pemakaman Tionghoa, jarang sekali ada yang mengunjungi. Sesekali ada sosok pria yang memandanginya dari arah kejauhan. Pria yang sekarang ini telah menjadi guru SMP. Senyumnya sesekali terlihat muncul. Mungkin sekali hati kecilnya ingin berkata, bercerita sesuatu yang indah pada seseorang, seseorang yang telah hilang jasadnya di dunia, namun masih terukir dalam hati yang paling dalam.

……………….

pria itu mengakhiri kisahnya padaku, seraya berkata,

“Bila Tuhan mengijinkan saya untuk memohon pada-Nya, saya ingin memohon dan berdoa agar kelak dia menjadi salah satu bidadari di surga”

setidaknya, cerita ini membuatku sadar, hidupku setidaknya nyaris hampir sama dengannya. mungkin aku tidak tahu akhir apa yang akan ku terima. tetapi yang kupercayai adalah, “jodoh telah digariskan oleh Allah pada setiap hamba-Nya”. hanya itu. Dan yang bisa kulakukan adalah berusaha dan berdoa. Aku percaya, bila seorang hamba mencintai karena Allah, maka insya Allah hamba tersebut akan diberi kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak, dan Allah pun mudah-mudahan cinta pada mereka berdua. Wallahu a’lam bish-shawab.”

11 Responses to “Berharap Tuhan Menjadikannya sebagai Bidadari di Surga”


  1. 1 blackclaw Agustus, 23, 2007 pukul 11:11 pm

    “… Dan jika lewat adinda disamping pusara,
    dimana ujung roknya menyisir perlahan rumput itu,
    aku akan mendengarnya…”

  2. 2 Kurt Agustus, 24, 2007 pukul 6:08 am

    Waaduh kaya sinetron aja. Inget sinetron Ratu sama film jomblo…

    dari mulai SMP percintaan berlabuh hingga menjadi pacar seorang bos… anak keturunan lagi.

    Hikmahnya:
    1. Kehidupan sangat plural jika disikapi dengan bijak, tidak ada sekat yang menghambatnya. Buktinya, Lin yang memang dasaranya orang baik, berteman dengan siapa saja termasuk Zainul enjoy aja…

    2. Bapak Lin juga dasarnya orang baik-baik, maka saya berkesimpulan keluarga LIN itu memang keluarga yang menghargai orang lain.

    sebuah hikmah dan tidak sia-sia postigan yang menarik ini meskipun panjang, tidak lelah membacanya, karena bahasanya meluncur dengan manis bak air mancur…🙂

  3. 3 A-isy Agustus, 24, 2007 pukul 7:40 am

    hm..
    gitu ya😀
    blm baca lengkap, tar saya baca lagi

  4. 5 shinobigatakutmati Agustus, 30, 2007 pukul 4:51 pm

    @Black : Nice poemz! thx ^ ^

    @ Kurt : Absolutely agree! dan kebetulan yus akrab dengan “tokoh” tersebut, karena itu beberapa alur terkesan agak sepert i “kronologis” (meskipun tidak seberapa, biar kesan “cerita” pada kisah itu menjadi jelas). thx

    @ A-isy: kesini lagi ya ^ ^ mari! thx

    @ shige : genki da yo…!!! genki datta?

  5. 6 Magister of Chaos Agustus, 31, 2007 pukul 2:25 pm

    Wah,ceritanya menharukan sekali……

  6. 7 devilkazuma September, 24, 2007 pukul 3:07 am

    Trus Zaenul skarang dah nikah lom?

  7. 8 shinobigatakutmati Oktober, 8, 2008 pukul 1:57 am

    @Magister of Chaos : iya… kalau baca postingan ini jadi sedih juga😦
    @devilkazuma : sekarang sudah nikah…. melepas status lajangnya😀

  8. 9 ManusiaSuper Februari, 9, 2009 pukul 8:48 am

    Saya malah merinding baca komentarnya blackclaw itu…

  9. 10 dodol wenak Februari, 18, 2009 pukul 10:01 am

    Tuhan tersenyum jika ga diikat dengan fiqih.


  1. 1 pulau tidung Lacak balik pada Januari, 16, 2015 pukul 11:40 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




rodi rodi

Agustus 2007
M S S R K J S
« Jul   Sep »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Dengan bangga menjatakan bahwa Shinobi adalah:

haruhiism

another artwork:

my photobucket


%d blogger menyukai ini: