Archive for the 'kripik singkong' Category

Saat Lukas Berkata…..

Catatan : Shino lagi ngga khotbah kok. cuman lagi cerita aja.

ameen… lah apa pula ini __ __

cara ngerawat kura2?

Kalo cara ngerawat kura2 brazil itu gimana, ya? Punya gw udah dirawat baik2 tp cuma tahan 1 bln. (Hyorinmaru

jawab :

ow… kura2x itu makanannya ngga bandel. cukup dikasih sayur2x an aja udah hidup kok. tapi kalo mau lebih karena kelebihan dana, kasih aja makanan ikan atau yang lain. perhatikan juga tempatnya. kura2x kecil tergantung tipenya apa. ada yang senang di darat ada yang senang di air. kalo dia tipenya di darat, airnya jangan terlalu penuh. tempat yang lebar pasti dia senang. sering2x ajak main. biarkan dia jalan2x di darat (teras minimal deh), untuk melatih otot kakinya.

kalo dia senang di air, beri dia air lebih. tapi jangan terlalu penuh, kasihan soalnya butuh nafas juga. kemudian kasih dia permainan. setidaknya ajak dia nongol di permukaan air, sehingga bisa melatih dia sekaligus menyenangkan dia.

air diganti minimal seminggu sekali.

jangan lupa, sering sikat ya kura2xnya. tempurungnya itu loh! seperti kita yang pake mandi. kura2x juga butuh mandi

yang terakhir namun paling jitu: telaten! ok?

wa punya kura2x. lumayan gede sekarang ^ ^ udah wa kasih kakak. lumayan buat nemenin main ahahaha

salam

belajar karate… kihonnya dulu!

kira-kira baru 2 minggu belajar karate. gara-gara terlalu semangat saya berambisi untuk bisa dalam setiap kumite. kebetulan lawan tandem saya adalah seorang tipikal fighter sejati, dan saya kira bila ditempa dengan baik maka kelak akan menjadi fighter yang hebat!

hari demi hari, berlalu. sepertinya saya sudah sreg dengan karate! ketika itu, tadi malam saya membaca buku wawancara dengan shihan renshi achmad ali (dan 7 IKGA (International Karate-do Gojukai Association)). saya lahap sampai habis. dan menarik! disana saya baru tahu, bahwa dasar belajar karate adalah dimulai dari kihon (teknik dasar) nya dulu! menurut beliau, “bila kihonnya saja tidak benar, maka sikapnya pun tidak benar” dengan demikian karatenya pun tidak benar juga.

dari wawancaranya tersebut, beliau sangat menyayangkan apabila sudah ada yang memegang sabuk hita namun kihonnya saja masih kacau, misal ketika mawashi geri, mae geri, gyaku tsuki atau teknik lainnya tidak mencerminkan kihon yang benar. karena bagaimanapun, sebelum seseorang lebih lanjut mempelajari kata, belajar kumite, jiyu kumite, dsb mesti

menguasai kihon yang sebenarnya.

sebenarnya tidak salah pandangan Shihan Achmad Ali, karena di bawah instruksinya, tim indonesia (karate do gojukai) berhasil menyandang gelar

juara dalam kata beregunya (dalam event internasional tentunya).

oke deh. berarti saya mesti belajar kihon yang benar seperti apa! hosh… lalu

bagaimana dengan kumite?

kumite seharusnya merupakan aplikasi dari gerakan-gerakan yang ada. namun, sekarang ini, dan ada ahli karate mengatakan bahwa, sekarang ini kumite merupakan “pemiskinan teknik” dari karate-do itu sendiri. yah… benar juga sih, karena rata-rata di dalam kumite, hanya gyaku tsuki maupun mae geri saja yang digunakan. sedangkan mawashi geri pun jarang, apalagi teknik yang lain? hingga konon ada seorang master karate mengatakan, “kumite lebih baik diganti namanya menjadi ‘pertandingan teknik gyaku tsuki dan mae geri’ saja” (ahaha… sepertinya sindiran ini memang cocok n tepat yach n_n)

jadi, sebelum kumite… kihonnya dulu! ok? ^ ^

“asli” kah jilbabmu ini??

pernah ditanya kepada saya, tentang makna konsisten itu. sebenarnya apakah bentuk dari konsistensi yang ada, bilamana seseorang yang telah mencurahkan seluruh jiwa raga, memegang suatu tali yang erat untuk melaksanakannya dengan sebenar-benar ketulusan?

saya teringat, apa pun capaian yang orang inginkan, maka i’tikad awalnya lah yang menentukan. niat memang mempengaruhi amal perbuatan. suatu esensi yang teruji, tiada terbantahkan bagi banyak orang, dan terbukti dalam kehidupan nyata.

suatu singgungan pernah dilemparkan pada saya, mengenai pandangan saya tentang jilbab, dan tren berjilbab. sungguh, bukanlah pakar yang patut diberi pertanyaan tersebut! saya lantas bertanya, perihal pertanyaan tersebut, dalam lingkup apa akan tertuju?

mengenai esensi dari konsisten, sungguh indah bilamana jilbab yang para wanita kenakan adalah asli dan murni, dari i’tikad baiknya karena kesadaran diri dan bukan lagi sebagai suatu “kewajiban” saja, namun suatu “keperluan sehari-hari” yang tiada tertinggalkan. namun, bila disoroti tentang hati di balik semua orang, mana saya tahu. alasan untuk berjilbab pun mana saya tahu. karena semua orang punya jawabannya sendiri. semua punya kepentingan masing-masing.

realita menjawab, yang mengikuti tren, maka hanya tren lah pencapaiannya. tiada hakiki benar. bila hanya sebagai pelimpah rasa frustasi belaka, dari masalah duniawi, maka hanyalah begitu saja. aurat mereka benar telah terlindungi… namun apakah hati mereka juga terjilbabkan?

Bagi saya, semua orang bisa leluasa memakai jilbab. itu pun bisa sebagai kamuflase yang sempurna. namun, apakah berarti dia mampu memaknai arti jilbab ini, sebagai hijab mereka agar senantiasa dimuliakan? semboyan perdagangan pun muncul, “DO NOT ACCEPT IF SEAL IS BROKEN”. Berpakaian, namun tanpa hijab, seperti itu kah?

tentu saja, semua orang membantah, “lha wong saya berjilbab sudah lama, sama tahu akan maknanya”. semua orang bisa saja berkata, “saya kan baru belajar”. silahkan, anda belajar dari ahlinya. bisa jadi dari ahli trendsetter atau kah dari ahli yang mumpuni. toh ini cuman ada adanya saya saja.

tetapi mungkin bila kejadian seperti ini terjadi:

seorang berjilbab, kemudian berpacaran. suatu saat tiada hijab diantara mereka, dimana mereka berada dalam keadaan berdua, maka kemudian tiba-tiba semoga tidak terjadilah perbuatan yang diluar akal sehat manusia. tentu saja bila dilihat dari pandangan kasat mata, dia masih sama dengan orang lain, namun secara fisiologis, dia bukanlah dia yang dulu. dan waktu tiada berputar balik. akhirnya?……

silahkan anda sadari, bisa jadi kejadian diatas benar-benar adanya. saya tidak akan menjawab akan terjadi dimana, bisa jadi di jalan, bisa di mobil, bisa di penginapan, atau mungkin bisa saja di warnet?

saya hanya berpesan:
“berjilbablah sesuai syariat”

apakah itu? tanyakan lah pada ahlinya 😀
——————————————————————————————

berikut adalah tanggapan dari teman-teman di friendster:

ketika jilbab hanya menjadi tren busana. inilah yang disebut berpakaian tapi telanjang. hijab yang benar adalah menutupi semua aurat tubuh (baik kulit maupun lekuk tubuh) kecuali wajah dan telapak tangan. (by Budi Susilo)

jilbab yang bener, adalah jilbab yang shar’iy. seperti di tulis mas budi diatas.

kl cuman kerudung yang nutup sebagian kepala, itu lebih disebut “kerudung” saja.

kata jilbab kan merujuk ke seluruh pakaian ya, bukan hanya kain kerudung itu doang, IMHO 😀 (Bang Hideyoshi)


rodi rodi

Agustus 2017
M S S R K J S
« Mei    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Dengan bangga menjatakan bahwa Shinobi adalah:

haruhiism

another artwork:

my photobucket