Archive for the 'sambel basi' Category

mantra

aku adalah angin dikeheningan malam

tiada jiwa menyadarinya

namun, kala dinginku kian menjelma

semua kan menjadi beku dan membatu

Jual TIM ah….

konon beredar kabar bahwa T I M mau dijual nih. waduh…. kok bisa?

tapi setelah ditelusuri, ternyata T I M yang dimaksud adalah, 
Taman Ibrahim Marzuki. Bahasa Bodornya,brahim Marzuki itu 
ayahnya Ismail Marzuki. Tidak bisa dipertanggungjawabkan 
keshahihannya emang.
Konon, T I M itu dijual lantaran alm. Ibrahim Marzuki 
telah melimpahkan ke tangan ahli waris, hanya saja
Ahli Warisnya merasa T I M terlalu boros 
dalam biaya maintenance. Padahal nilai historinya tidak bisa Diuangkan begitu saja. Namun karena dari pihak keluarga I M, 
terutama anak sulungnya, Ismail Marzuki sudah punya 
taman sendiri, maka apa boleh buat? 
dinegolah ke pedagang buah kesemek dari luar negeri.

Kasihan ya?

Tapi tenang saja, ini hanya obrolan surealis….. ^ ^

pujangga kamar mandi

Dikau pujangga kamar mandi,
menggerutu lewat garukan tanganmu
bersiul menunggu ilham turun dari langit,
kemudian tangan mu memegang gayung “senjata” penat
beradu syahwat,
lalu bertumpuk aroma keramat,
“ah begitu susahnya menjadi pujangga hari ini”, keluhmu
lalu engkau menukar batu dengan lembaran-lembaran tentamen
hanya untuk melapi lubang pistolmu dari sisa amunisimu yang belepotan itu
yang kau gunakan tuk melumpuhkan rasa sakit pada usus besarmu
hingga terbuang begitu saja, tidak terhitung jumlahnya, dan kini lembaran-lembaran itu tinggal sejarah dan bersaksi:
bahwa ada seseorang mengabadikan pengabdiannya sebagai seorang
pujangga kamar mandi

sastrawan kupu-kupu

Setahun aku menggeliat, bagai ulat tersapu debu, di padang dahaga
tanpa asmara, tanpa pelukan cinta,
Terlahir dari ibu seorang lalat, bermula dalam semuram larva,
kumerindu dalam hangat kepompong,
berkelana mencari bentuk serba guna
hingga ku berkhayal: mati dalam bentuk serba rupawan.
Lalu semua serba berupa, tiada berubah
aku pun terpatuk pada kaidah-kaidah alam:
tiada liar, ganas, tunduk pada terik mentari
aku meraung, agak terseret, hanya tersisa luka lecet
Namun raungan itu hanya sehela napas tertarik: tercekik dalam bentuk
lalu terkubur dalam rasa, indahnya metamorfosa.
Kini aku ulat bersayap, terbang, berangguk-angguk dalam elok
namun ku tetaplah ulat! terperangkap dalam bentuk, meliuk dalam kata-kata anggun
lalu membatu pada etalase museum,
yang kini tercatat dalam memoar : “penjara kolosal bagi sastrawan era ’90 an”

kondom totol merah jambu

Kondom totol merah jambu itu

berlabuh hingga ke tepian

membelai lumut

menghantam karang,

bersandar di sela-sela bebatuan.

Kondom totol merah jambu itu

lemas,

saksi dari pesta sejenak

pelepas penat

dari dahaga kebahagiaan

dan cinta yang kering meronta

Seperti sajak

yang tumbuh

dari keringnya dunia

yang kini makin fakir

dan kafir pada lembaian cinta

sepenggal cinta berselimut jerami

kala aku bernapas, ku hela saja udara dingin ini sampai tak tersisa

karena bayangku masing terawang-awang

dan bayangmu masih dalam karangan

lalu kita bermain mesra dalam isyarat:

engkau mencibir, aku mendesir

hingga lupa daratan tuk berpijak, kita pun jatuh

menghujam bumi

bersiul riang

lalu menghilang,

menyisakan sepenggal cinta berselimut jerami

26 februari 2008

untuk bayanganku yang bertamasya di luar negeri

Kali ini puisiku tak semanis kemarin

mengapa?

Lanjutkan membaca ‘Kali ini puisiku tak semanis kemarin’


rodi rodi

Agustus 2017
M S S R K J S
« Mei    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Dengan bangga menjatakan bahwa Shinobi adalah:

haruhiism

another artwork:

my photobucket